BOYOLALI – Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali menetapkan status siaga menyusul ditemukannya itik yang positif terjangkit flu burung di Desa Kuwiran, Kecamatan Banyudono.
Masyarakat pun diminta proaktif melapor apabila terdapat unggas yang mati mendadak. Demikian disampaikan Kabid Kesehatan Hewan Veteriner Disnakan Boyolali, Ida Nawaksari.
Ida mengatakan sejak lama pihaknya telah mewaspadai munculnya penyakit flu burung setelah sempat merebak di Jawa Tengah. Dengan ditemukannya itik yang positif terjangkit, pihaknya kini menjadi makin waspada.
Ia menuturkan, sebelumnya juga terdapat kasus kematian itik di desa yang sama. Hanya saja dari pemeriksaan yang dilakukan hasilnya negatif flu burung. Pemeriksaan lanjutan menyatakan kematian unggas disebabkan serangan tetelo.
Ida menambahkan, salah satu kendala yang dihadapi pihaknya kini adalah belum diterimanya vaksin AI varian baru yang menyerang itik. “Diperkirakan, vaksin baru didistribusikan Maret mendatang dari pusat,” kata Ida Minggu (17/2).
Stok yang ada kini adalah vaksin lama yang peruntukkan bagi unggas ayam. “Itupun stoknya hanya 50.000 dosis. Padahal, jumlah populasi itik saja mencapai 194 ribu ekor. Kendala lainnya adalah vaksin yang baru, sifatnya hanya bantuan. Jika masih kurang, nantinya akan dianggarkan dalam APBD,” imbuhnya.
Karena itu, saat ini pihak dinas hanya bisa melakukan langkah antisipasi. Salah satunya dengan upaya pencegahan dini dengan penyemprotan disinfektan. “Kami minta peternak unggas lebih proaktif melakukan penyemprotan disinfektan di kandang masing-masing,” timpal Karmidi, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Disnakan Kecamatan Banyudono. Karmidi menjelaskan, disinfektan yang tersedia jumlahnya cukup untuk penyemprotan. (Lukito)